Memanfaatkan Barang Bekas Untuk Bertanam Hidroponik

Sore itu sejumlah  siswa Learning Center di Kampung Siliwangi Desa Hanura nampak sibuk memotong toples plastik dan kaleng minuman bekas, beberapa siswa ada yang melobangi botol-botol plastik bekas minuman dengan solder panas, di tengah kerumunan siswa nampak Mas Agus yang serius memperhatikan kesibukan anak-anak , Sebagai pegiat  Learning Center tentunya menjadi kesenangan tersendiri  menemani dan membimbing para siswa melakukan praktek bertanam dengan metode Hidroponik.

Berharap tidak saja kecakapan berbahasa inggris dan pengetahuan komputer namun siswa yang belajar juga mendapat pengetahuan tentang Bertanam dan Pengembangan diri yang kelak bisa mengembangkan potensi pada komunitasnya dan survive dengan kondisi lingkungan disekitarnya. Pilihan siswa dibekali dengan bertanam system hydroponik karena ini sebuah metode penanaman yang belum dikenal luas oleh masyarakat lokal diwilayah Desa Cilimus, Desa Hanura dan sekitarnya dan saat ini sudah menunjukkan gejala adanya konversi lahan pertanian untuk pemukiman dan untuk keperluan lainya sehingga kedepan tidak memungkinkan lagi dengan sistim olah tanah pekerangan untuk kegiatan pertanian.

Siswa Learning Center sedang membuat media tanam hidroponik

Siswa Learning Center sedang membuat media tanam hidroponik

Dengan mengajarkan system bertanam hydroponik ini banyak hal yang bisa diajarkan kepada siswa, pertama: persoalan sampah yang makin menumpuk akan terkurangi, karna  kami memanfaatkan barang bekas yang tidak dapat terurai seperti botol plastik dan lainya. Kedua: tentunya kami tidak keluar biaya untuk pengadaan media tanam karna sudah cukup dari bahan bekas.  Ketiga : Kami dapat mengkonsumsi sayuran organik dan sehat serta menghemat pengeluaran dapur karna terbantu dari hasil tanam-tanaman sayuran yang sebagian mencukupi untuk kebutuhan dapur, dan yang keempat : kami sudah ikut berkontribusi dalam pengurangan emisi karna menghijaunya tanam-tanaman dan menghindari penggunaan bahan kimia demikian  paparan dari Mas Agus yang juga menjadi Kordinator kegiatan Learning Center sejak tahun 2011 dengan kursus computer dan Bahasa Inggris gratis tanpa sepeser pungutan apapun, di akhir percakapan beliau berharap semoga kegiatan yang dilakukan para siswa Learning Center di Kampung Siliwangi Desa Hanura ini dapat di replikasi oleh masyarakat sekitar dalam menuju kemandirian pangan lestari. (Dod)

Learning Center KP.Siliwangi Desa Hanura Turut Meningkatkan Pengetahuan Komunitas

Sejak di giatkanya kegiatan kursus ketrampilan computer dan Bahasa inggris melalui Learning Center SHK Lestari di Kampung Siliwangi Desa Hanura terhitung sudah ratusan siswa yang sudah menjadi alumni pada Lembaga Pendidikan non Formal ini. Awalnya dari kegiatan pengkaderan untuk anggota maupun Pemuda Kelompok Tani SHK Lesatari yang kemudian menjadi tempat kursus komputer bagi para anak-anak petani di sekitar kawasan Taman Hutan Raya Wan Abdul Rahman.

Siswa Learning Center di Kampung Siliwangi Desa Hanura (desa hanura. doc)

Siswa Learning Center di Kampung Siliwangi Desa Hanura (desa    hanura. doc)

Pada Juni 2011 melalui Yayasan Luksembrough Indonesia (YLI) Foundation kegiatan kursus ini mendapat support, sehingga para pegiat Learning Center bisa melaksanakan kegiatan lebih serius lagi, tidak saja ketrampilan komputer yang di ajarkan di sini namun siswa juga mendapat kursus ketrampilan Bahasa ingris yang diajarkan pada tingkat pemula dan tingkat lanjutan (advance).

Rumah Belajar yang  digagas sejak tahun 2007 awalnya merupakan Community Training Center (CTC) yang kegiatanya lebih untuk meningkatkan pengetahuan para petani di sekitar Hutan dalam mengakses informasi melalui Internet Tani, kendala jaringan internet yang menjadikan kegiatan ini tidak mulus berjalan. Rumah Belajar ini kemudian di Set-Up dengan lebih serius dan terlembaga dengan membentuk Komite dan Kordinator dengan menjadikan Learning Center sehingga kegiatan belajar maupun kursus dapat dilaksanakan lebih serius dari sebelumnya. Saat ini ada 4 (empat) orang pembimbing yang terlibat pada gelombang belajar yang kelima pada tahun 2014 ini, dan siswa kursus mendapat sertifikat kelulusan seperti lazimnya lembaga kursus di kota-kota. (Rick)